Barack Obama used his Muslim heritage today to call for an end to the “cycle of suspicion and discord” between the United States and the Islamic world. The President called for a “new beginning” to confront violent extremism across the globe and advance the quest for peace in the Middle East.
He admitted to “years of distrust” and said both sides needed to make a “sustained effort... to respect one another and seek common ground”.
The widely anticipated address to the Muslim world was an attempt by the President to distance himself from the Bush leadership and improve relations severed after the 9/11 terror attacks and the US-led war in Iraq.
Delivering the speech in Cairo, President Obama said: “I have come here to seek a new beginning between the United States and Muslims around the world, one based upon mutual interest and mutual respect, and one based upon the truth that America and Islam are not exclusive, and need not be in competition. Instead, they overlap, and share common principles.”
He added: “As the Holy Koran tells us, Be conscious of God and speak always the truth.' That is what I will try to do — to speak the truth as best I can, humbled by the task before us, and firm in my belief that the interests we share as human beings are far more powerful than the forces that drive us apart.
“Part of this conviction is rooted in my own experience. I am a Christian, but my father came from a Kenyan family that includes generations of Muslims. As a boy, I spent several years in Indonesia and heard the call of the azaan at the break of dawn and the fall of dusk. As a young man, I worked in Chicago communities where many found dignity and peace in their Muslim faith.”
Mr Obama spoke at Cairo University after meeting President Hosni Mubarak on his four-nation trip to the Middle East and Europe. The speech was the centrepiece of his tour and covered the Middle East peace process, Iran, the Afghanistan and Iraq wars and al-Qaeda.
He said the actions of violent extremist Muslims are “irreconcilable with the rights of human beings” and added: “Islam is not part of the problem in combating violent extremism— it is an important part of promoting peace.”
He also called on the Palestinian Hamas movement to “put an end to violence, recognise past agreements, and recognise Israel's right to exist.” And he said: “Israelis must acknowledge that just as Israel's right to exist cannot be denied, neither can Palestine. The United States does not accept the legitimacy of continued Israeli settlements. It is time for these settlements to stop.”
Mr Obama, who received a standing ovation at the end of his speech, also said the US sought no permanent bases in Iraq or Afghanistan.
He added: “We would gladly bring every single one of our troops home if we could be confident that there were not violent extremists in Afghanistan and Pakistan determined to kill as many Americans as they possibly can. But that is not yet the case.”
Blog Archive
Popular Software
-
Kontes kecantikan yang lazim digelar, sebagian besar memberikan penilain pada kecantikan wajah dan kemolekan tubuh. Mustahil bagi perempuan ...
-
Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikia...
-
According to the historical records of Judaism, Christianity, and Islam, Jesus lived approximately 2,000 years ago. He was a chosen messenge...
-
"Kasihilah penghuni bumi, niscaya engkau dikasihi penghuni langit" sabda Rasulullah SAW, yang dimaksud dengan ''penghuni l...
-
Sholat itu tiang agama Dalam salah satu hadits Nabi disebutkan "asholatu imanuddin", sholat itu adalah tiang agama, mungkin secara...
-
Barack Obama used his Muslim heritage today to call for an end to the “cycle of suspicion and discord” between the United States and the Isl...
-
Vatikan menghimbau industri perbankan mengadaptasi sistem keuangan syariah untuk memulihkan kepercayaan para nasabah dan mengatasi krisis ya...
-
Found this addon for Microsoft Word. It adds a menu at the top of Word allowing you to insert any part of the Quran directly into your docum...
-
Zakat Fitrah/Fidyah Dari Ibnu Umar ra berkata : "Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha' kurma atau gandum pada budak, ora...
-
This Sermon was delivered on the Ninth Day of DhulHijjah 10 A.H in the Uranah Valley of mount Arafat "O People, lend me an attentive ea...
Search This Blog
Obama pleads with Muslim world for a ‘new beginning’
Terapi Kesehatan dalam Gerakan Shalat
Sholat itu tiang agama
Dalam salah satu hadits Nabi disebutkan "asholatu imanuddin", sholat itu adalah tiang agama, mungkin secara lugoiviyah-nya adalah orang yang sholat adalah yang menghidupkan agama dan orang yang tidak sholat adalah yang mematikan agama. Secara harfiah sholat merupakan tiang agama, maka siapa yang sholat dia telah menegakkan agamanya, dan yang tidak sholat berarti dia telah menghancurkan agamanya. Menurut pandangan ulama-ulama tasawuf yang ditinjau dari filsafat Rasulullah SAW, mengungkapkan sholat itu merupakan tiang agama. Agama memiliki 3 (tiga) pilar yaitu :
1.Iman
2.Ikhsan
3.Islam
Iman Aqidah dengan ilmu tauhidnya, ikhsan : tashawuf, moral akhlaknya dan Islam : syariah ilmu fikihnya. Kalau dikatakan bahwa sholat merupakan tiang agama berarti sholat itu menunjang keimanan, menunjang syariah dan menyempurnakan akhlak manusia. Kemudian bagaimana letak Aqidah keimanan di dalam sholat itu terbagi menjadi 6 (enam) komitmen iman di dalam sholat menurut khujjatul Islam, Imam Ghozali adalah :
1.Komitmen untuk membesarkan Allah SWT, itu merupakan isi sholat,
2.Komitmen untuk mengagungkan Allah SWT,
3.Komitmen untuk memuji Allah SWT,
4.Komitmen untuk mensucikan Allah,
5.Komitmen untuk mengesakan Allah,
6.Do'a.
Jadi semua ucapan dan gerakan sholat menjawab keenam komitmen tersebut. Kenapa berdiri, mau membesarkan. Kenapa harus mengangkat tangan, cara kita untuk membesarkan. Ada ruku, mau mengagungkan Allah, ada I'tidal, untuk memuji Allah, ada Sujud untuk mensucikan Allah. Kita duduk antara dua Sujud, adab untuk berdo'a. Kita tahiyat untuk mengesakan Allah, jadi semua dijawab baik ucapan maupun gerakan. Dalam ucapanpun sama seperti iftitah adab berdoa, ada fatihah yang dirukunkan untuk memuji. Ada ayat yang dibaca untuk mensucikan lagi.
Pembentukan moral dan akhlak
Dalam fenomena keragaman di Indonesia ini ada kerawanan, banyaknya aliran-aliran sesat, munculnya nabi-nabi palsu ini merupakan fenomena di akhir zaman. Memang Rasulullah SAW mengungkapkan dalam hadits ada 71 golongan, yaitu 1 ke surga dan 70 ke neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 1 ke surga dan 71 ke neraka. Umatku terpecah menjadi 73 golongan, yaitu 1 ke surga dan 72 ke neraka.
Dalam hadits yang lain pun sudah diterangkan bahwa ciri-ciri hari kiamat, kata nabi tidak akan terjadi kiamat sebelum dimunculkan 30 nabi palsu seperti dajjal. Dalam salah satu penelitian dari Islamic center di London beberapa tahun yang lalu bahwa terungkap dari bukti-bukti sejarah dan fakta yang mereka lihat, mereka teliti serta mereka pelajari selama 14 abad tidak kurang dari 10 nabi palsu sudah muncul dengan pengikut yang banyak termasuk di Meksiko , ada Aulia Muhammad, di Pakistan ada Mirza Ghulam Ahmad, di India Utara ada Sai Baba sudah mengaku nabi lagi dengan pengikutnya sudah jutaan orang. Diperkirakan pada tahun 2015 ada yang mendakwahkan dirinya menjadi tuhan.
Asholatu imanuddin, sholat adalah tiang agama yaitu pilar agama adalah keimanan, dengan keimanan itu akan menghidupkan sholat. Ikhsan, akhlak dan moral yang berarti ibadah sholat itu akan membentuk akhlak dan moral. Jika dibahas satu persatu ada 9 (sembilan) gerakan sholat yang dibahas oleh Imam Bukhori, dimana letak pembentukan moral dan akhlaknya. Sujud mengajarkan manusia tawadhu rendah hati karena ada sifat sombong dan apa yang kita banggakan semuanya pasti jatuh ke bawah. Harta jangan disombongkan karena tidak dibawa mati, pangkat jangan disombongkan karena ada waktu pensiun. Ilmupun jangan disombongkan karena dari Allah. Kegagahan tidak perlu dibanggakan karena ada waktu sakit, semuanya itu perlu dilatih melalui ibadah Sujud. Ada ruku yang mengagungkan Allah, dan kesempurnaan hanya milik Allah. Kita sadar pada waktu ruku karena manusia tidak ada yang sempurna. I'tidal untuk memuji Allah, agar supaya kita mau mensyukuri nikmat dan jangan menjadi orang yang serakah dan kufur nikmat. Salam merupakan penjabaran dari silaturahmi antara satu mukmin dengan mukmin yang lain. Sholat itu tiang agama adalah membentuk iman, membentuk syariat dan membentuk moral. Makna syariat adalah untuk melatih disiplin, selama ini kita hanya mengandalkan sisi fikihnya saja seperti wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah, tetapi kalau dilihat dari segi filsafat syariat ini justru akan memberikan hikmah, dalam kehidupan kita.
Makanya di dalam Al qur'an tidak kurang dari 40 sasaran ayat sholat. Ada sholat yang dihubungkan ibadah dengan do'a, dengan keluarga, dengan ekonomi, dengan gerakan dan dengan waktu. Sekarang ada pertanyaan kenapa Allah SWT menetapkan untuk melakukan sholat? Dalam tafsir ilmiah Al Azhar Kairo, itu terbantu oleh penelitian dari ilmuwan Cina, kenapa Allah menetapkan waktu-waktu sholat.
Gerakan mengandung energi
Dalam buku kuno Cina telah mengungkapkan periode alam semesta dalam 24 jam ini rupanya terjadi beberapa periode. Dalam buku itu terjawab ada hubungan antara manusia dengan alam di sekitar dan ini melalui waktu sholat terbukti bahwa energi alam dengan manusia terjadi sirkulasi yang amat seimbang, makanya Allah SWT menetapkan waktu-waktu sholat itu.
Kenapa sholat harus 5 kali dalam sehari ? Menurut pendapat ilmuwan Cina :
• Ada energi api akan keluar pada waktu jam 12.00 siang sampai sore, untuk mengobati jantung dan ginjal itu .
• Dalam gerakan sholat ashar adalah siklus dari panas ke dingin mereka menyebutnya terapi kandungan kemi. Secara alamiah gerakan ashar itu ternyata memisahkan zat-zat kimia dalam tubuh kita
• Ada energi air yang keluar pada waktu jam 6 sore setelah terbenamnya matahari yang mereka menyebutnya bahwa maghrib itu menterapi ginjal.
• Gerakan isya yaitu setelah mega merah hilang, ini mereka menyebutnya sebagai terapi yang mengurangi kelebihan energi. Ada energi kayu yang keluar pada waktu jam 11 malam, dia yang menghancurkan racun-racun yang ada dibadan kita, dan menurut ilmuwan Cina racun itu bakar kayu untuk membuang racun di otak.
• Kemudian jam 02 pagi otak dibersihkan oleh energi kayu, dan selanjutnya Allah menyediakan dan mengisinya untuk sholat tahajud pada waktu sepertiga malam. Ilmuwan di Jerman melakukan penelitian Prof. Dr. Sholeh seorang guru besar Universitas Airlangga, telah membuktikan bahwa tahadjud yang teratur dan disiplin akan mencegah kanker, tres dan inspeksi oleh sebab itu jika orang melakukan dengan teratur memiliki emosi yang positif. Energi udara keluar pada jam 02
• Jam 03 pagi energi logam yang menterapi kita.
• Jam 06 pagi melakukan sholat dhuha untuk menterapi pencernaan.
Dalam gerakan sholat para ilmuwan Cina bahwa 9 (sembilan) gerakan sholat, atau disebut dengan gerakan suprayoga karena energi itu akan masuk ke syaraf di tangan dan cara yang paling tepat untuk menangkap energi itu karena kita takbir waktu mengawali sholat, takbir waktu bangun dari ruku di situlah energi masuk. Menurut Rasulullah SAW meletakkan pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri yang berarti tangan kiri dijepit oleh jari tangan kanan, menjepit pembuluh balik tangan kiri yang menyebabkan pembuluh tangan kanan mengembang selama imam membacakan al fatihah dan surah. Di saat kita mau ruku tangan diangkat semprotan dari tangan kanan itu langsung ke telinga ke mata dan sebahagian otak. Ruku meleturkan memori otak dan ginjal. Sujud menurut para ilmuwan Cina korener dan oksigen, posisi Sujud pembuluh jantung mengembang. Duduk pada tahiyat awal mereka mengatakan pembakaran mengefektifkan kelenjer keringat dan pencegahan pengapuran dan tahiyat akhir menterapi keseimbangan dan wasir. Duduk antara dua Sujud mereka menyebutnya duduk keperkasaan karena menarik syaraf dibawah lutut dan dipangkal paha.
Jadi kita tidak heran bahwa Allah menekankan gerakan sholat dan wakatu sholat, ini merupakan syariah yang menerapi kita dan harus diperhatikan dan itulah makna asholatu imanuddin dan sholat merupakan tiang agama. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan kemudahan bagi kita. Amien.
Miss Arabian Contest
Kontes kecantikan yang lazim digelar, sebagian besar memberikan penilain pada kecantikan wajah dan kemolekan tubuh. Mustahil bagi perempuan Arab Saudi memiliki kesempatan menjadi ratu kecantikan dari kontes kecantikan semacam itu. Maklum saja, tubuh dan wajah perempuan Arab tertutup rapat. Ia mengenakan jubah hitam lebar untuk membalut seluruh tubuhnya, kerudung sebagai penutup kepala, dan wajahnya bercadar pula.
Namun di Arab Saudi, sebuah kontes bernama Miss Beuatiful Moral yang juga melibatkan kontestan perempuan, mengabaikan penilaian pada kesempurnaan penampilan dan wajah. Yang jadi penilaian pokok adalah bakti dan rasa hormat kepada orang tua. Ide kontes ini untuk mengukur komitmen para kontestan terhadap moral Islam. Ini sebuah alternatif dari kontes-kontes kecantikan lainnya yang hanya menilai tubuh dan paras wanita. Pemenangan kontes ini tak perlu dan melulu perempuan berwajah cantik tetapi yang dinilai adalah kecantikan jiwa dan moral.
Selama sepuluh pekan, mereka akan menghadiri sejumlah kelas dan menjawab serangkaian pertanyaan yang terkait tema 'temukan kekuatan jiwamu','melahirkan pemimpin', dan 'ibu, surga di bawah telapak kakimu'. Para kontestan juga akan menghabiskan waktu selama sehari di sebuah rumah dengan ibu masing-masing. Para juri perempuan, akan menilai bagaimana para kontestan ini berinteraksi dengan ibunya. Kontes ini tak disiarkan di televisi dan tak pula melibatkan laki-laki.Sehingga para kontestan ini diijinkan untuk menaggalkan jilbab dan abaya yang biasa mereka kenakan di depan publik.
Penyelenggaraan Miss Beutiful Moral ini telah memasuki tahun kedua. Pertama kali, kontes ini digelar pada 2008 yang saat itu hanya diikuti oleh 75 kontestan. Kontestan pada 2009 mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat, yang jumlahnya mencapai 200 orang. Kontes yang terbuka bagi perempuan berumur antar 15 dan 25 tahun ini juga menyediakan hadiah yang lumayan besar jumlahnya. Pemenang pada kontes tahun ini akan diumumkan pada Juli mendatang. Pemenang pertama yang juga ditasbihkan dengan gelar ratu, mendapatkan 2.600 dolar AS. Sang ratu, juga mendapatkan sejumlah hadiah lainnya. Sedangkan pemenang kedua akan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 1.300 dolar AS.
Pemenang kontes tahun lalu, Zahra al-Shufara, mengatakan kontes ini mendorong perempuan untuk lebih menunjukkan bakti pada orang tua.
Inti dari kontes ini adalah bukanlah kemenangan yang diraih dalam kontes ini tetapi berbakti pada orang tua. Saya akan merasa bangga menunjukkan kepada setiap orang bahwa saya bersaing dengan orang lain dalam kepatuhan kepada orang tua saya, kata salah seorang peserta.
22 Tanda Iman Sedang Lemah
1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa.
Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.
Rasululllah saw. pernah berkata, "Setiap umatku mendapatkan perlindungan safaat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, `Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini, padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya."(Bukhari, 10/486)
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman." (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)
2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku.
Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk kedalam ayat ini, "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (Al-Baqarah: 74)
3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah.
Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur'an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaansaja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, "Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main." (Tirmidzi, hadits nomor 3479)
4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah.
Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada.Menunda-nunda pergi shalat Jum'at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan.
Rasulullah saw.bersabda, "Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka." (Abu Daud, hadits nomor 679)
Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. "Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas."
Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.
5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang.
Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, "Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati."(As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)
6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur'an.
Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur'an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.
Ketahuilah, Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. " (Al-Anfal:2)
7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa
kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, "Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali." (An-Nisa:142)
8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.
Rasulullah saw. bersabda, "Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya– , maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya. " (Abu Daud, hadits nomor 4345).
Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman." (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)
9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi.
Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!
Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Luqman:18)
Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, "Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya. " (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)
Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, "Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir." (Bukhari, nomor 6729)
"Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil." (Shahihul Jami, 1420).
Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, "Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan `Laa ilaaha illallah', dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan." (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)
"Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?" tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, "Ya." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong." (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)
10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, "Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya. " (Shahihul Jami', 2678)
11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat." (Ash-Shaff:2- 3)
Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.
12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal.
Ingatlah! Kata Rasulullah saw, "Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain." (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)
Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Orang Islam yang manakah yang paling baik?" Rasulullah saw. menjawab, "Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya." (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)
13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, "Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya." (Muslim, hadits nomor 1599)
Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, "Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!" Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.
14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., "Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya." (Silsilah Shahihah, nomor 1352)
Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga." (Bukhari, hadits nomor 593)
15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, "Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala." (Silsilah Shahihah, nomor 1137)
16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. "Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya," begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)
17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah." (Ash-Shaff:14)
18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji." (Al-Ankabut: 2)
Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. "Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya." (Muslim)
19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. "Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan. " (Shahihul Jami', nomor 5633)
20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, "Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir." (Muslim)
21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda.
Bukankah Allah swt. telah berfirman, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba- Ku: `Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia'." (Al-Israa':53)
Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: `Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.'" (Al-Qashash: 55)
Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,hendaklah berkata yang baik atau diam." (Bukhari dan Muslim)
22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.
Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. " (Al-A'raf:31) . Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros." (Al-Isra':26)
Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah." (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).
Kehidupan vs Jabatan
Pesta democrazy sebentar lagi digelar. Saling berlomba untuk memperebutkan kedudukan atau jabatan kini makin marak di mana-mana. ''Penyakit'' tersebut menimpa semua golongan dan lapisan. Tokoh agama melawan tokoh agama, politisi melawan politisi, pedagang melawan pedagang, dan sebagainya. Bahkan antar tetanga bisa saling bentrok karena beda partai. Padahal karunia Tuhan begitu banyaknya, sehingga takkan habis kalau ''diperebutkan'' secara adil.
”Andaikata kamu hitung kenikmatan Allah, sungguh kamu takkan mampu melakukannya” ( Q.S. 14: 34).
Sepenggal dialog antara Khalifah Harun Al Rasyid dengan seorang ulama hendaklah menjadi renungan bagi kita aan arti sebuah kedudukan dan jabatan, yang hakeketnya adalah sebuah amanh dan harus dipertanggungjawabkan kedapa Sang Pemberi Amanah.
Khalifah berkata, ''Tuan guru, sudah banyak ulama lain memberi peringatan, dan tak sedikit pula yang menyampaikan kabar gembira. Tapi sepatah pun belum pernah saya dengar dari Tuan. Hati saya belum puas rasanya.''
Ulama yang arif itu terdiam, sesudah berpikir sejenak lalu menjawab, ''Bolehkah saya minta air putih dulu? Secawan untuk saya dan secawan untuk Tuan Khalifah.''
Permintaan itu membuat Harun Al Rasyid keheranan, namun segera ia perintahkan pelayan menyediakan dua cawan air putih. Sesudah tersedia di meja, sang ulama yang bersahaja itu menyuruh Al Rasjid menghirupnya. Tapi, tiba-tiba, sebelum cawan tadi menyentuh bibir Khalifah, penasihatnya mencegah dan bertanya:
''Maaf Amirul Mukminin. Tahan sebentar, jawab dulu pertanyaan saya. Andaikata di suatu padang pasir yang gersang, matahari seolah bertengger di ubun kepala, sedangkan Tuan tidak mempunyai persediaan air, sehingga tak berapa lama lagi bakal mati sengsara, apa yang Tuan lakukan apabila tahu-tahu ada seorang musafir menawarkan air dengan syarat harus Tuan bayar berupa singgasana dan kekayaan Tuan?''
Tanpa berpikir panjang Harun Al Rasyid menjawab, ''Dalam keadaan seperti itu, separuh kerajaan pun akan saya serahkan.''
Ulama tersebut tersenyum. ''Nah, minumlah air yang di cawan itu sampai habis.''
Kemudian sang Guru melanjutkan, ''Air di cawan tersebut sudah masuk ke dalam perut Tuan. Sesudah itu Tuan mendapat kesulitan besar, karena tidak bisa buang air kecil sampai berhari-hari. Seandainya dalam kesakitan itu ada yang mampu mengobati dengan syarat Tuan harus menyerahkan separuh kerajaan yang tersisa, apakah Tuan bersedia?''
Kembali tanpa ragu-ragu Al Rasyid menjawab, ''Biarlah saya menjadi rakyat biasa tanpa kekuasaan asalkan sehat walafiat.''
Islamic Banking
Vatikan menghimbau industri perbankan mengadaptasi sistem keuangan syariah untuk memulihkan kepercayaan para nasabah dan mengatasi krisis yang melanda industri keuangan global.
Surat kabar resmi Vatikan Osservatore Romano dalam sebuah artikelnya menulis, bahwa sistem keuangan syariah yang mengedepankan etika bisa membawa para nasabah untuk kembali percaya pada sistem keuangan dan semangat dari makna layangan jasa keuangan yang sebenarnya. Untuk itu, bank-bank di negara-negara Barat seharusnya mengadopsi konsep syariah, misalnya konsep surat berharga syariah yang dikenal dengan sebutan Sukuk untuk jaminan.
Artikel itu menyebutkan, Sukuk bisa digunakan untuk membiayai industri otomotif atau membiayai pelaksanaan Olimpiade yang akan digelar di kota London. Pembagian keuntungan yang didapat dari Sukuk, bisa dijadikan alternatif untuk mendapatkan profit yang bisa membantu sektor otomotif dan investasi di bidang infrastruktur. Karena dalam konsep Sukuk, uang hanya diinvestasikan pada proyek-proyek yang konkrit dan keuntungannya dibagi rata pada semua pihak.
Editor Obsservatore, Giovanni Maria Vian pada surat kabar Corriere della Sera mengatakan, setiap agama memiliki perhatian yang sama besar pada dimensi kemanusiaan dalam sektor perekonomian dan konsep ekonomi Islam sudah membuktikannya
The Prophet Muhammad's Last Sermon
This Sermon was delivered on the Ninth Day of DhulHijjah 10 A.H in the Uranah Valley of mount Arafat
"O People, lend me an attentive ear, for I don't know whether, after this year, I shall ever be amongst you again. Therefore listen to what I am saying to you carefully and TAKE THIS WORDS TO THOSE WHO COULD NOT BE PRESENT HERE TODAY.
O People, just as you regard this month, this day, this city as Sacred, so regard the life and property of every Muslim as a sacred trust. Return the goods entrusted to you to their rightful owners. Hurt no one so that no one may hurt you. Remember that you will indeed meet your LORD, and that HE will indeed reckon your deeds. ALLAH has forbidden you to take usury (Interest), therefore all interest obligation shall henceforth be waived...
Beware of Satan, for your safety of your religion. He has lost all hope that he will ever be able to lead you astray in big things, so beware of following him in small things.
O People, it is true that you have certain rights with regard to your women, but they also have right over you. If they abide by your right then to them belongs the right to be fed and clothed in kindness. Do treat your women well and be kind to them for they are your partners and comitted helpers. And it is your right that they do not make friends with any one of whom you do not approve, as well as never to commit adultery.
O People, listen to me in earnest, whorship ALLAH, say your five daily prayers (Salah), fast during the month of Ramadhan, and give your wealth in Zakat. Perform Hajj if you can afford to. You know that every Muslim is the brother of another Muslim. YOU ARE ALL EQUAL. NOBODY HAS SUPERIORITY OVER OTHER EXCEPT BY PIETY AND GOOD ACTION.
Remember, one day you will appear before ALLAH and answer for your deeds. So beware, do not astray from the path of righteousness after I am gone.
O People, NO PROPHET OR APOSTLE WILL COME AFTER ME AND NO NEW FAITH WILL BE BORN. Reason well, therefore, O People, and understand my words which I convey to you. I leave behind me two things, the QUR'AN and my example, the SUNNAH and if you follow these you will never go astray.
All those who listen to me shall pass on my words to others and those to others again; and may the last ones understand my words better than those who listen to me direcly. BE MY WITNESS O ALLAH THAT I HAVE CONVEYED YOUR MESSAGE TO YOUR PEOPLE."
Jesus in Qur'an
According to the historical records of Judaism, Christianity, and Islam, Jesus lived approximately 2,000 years ago. He was a chosen messenger of God and is held in honor both in the world and the Hereafter. The Gospel of Mathew states that he was born either during the reign of Herod l or in a period of the regime change (4 BCE). According to the Gospel of Luke, he was born during the reign of Emperor Augustus (27 BCE-14 CE) when a census was being conducted in Judea (6 CE). Such information cannot be verified. However, experts analyzing various sources believe that Jesus was born around 7-6 BCE.
The true religion brought by Jesus, God's chosen Messenger who was rewarded with Paradise and special gifts, exists today. However, it does so in name only, for it has been tampered with and falsified. Likewise, the revelation given to Jesus by God exists only in name and certainly not in its original, for the Christian scriptures have been tampered with and altered. As we cannot acquire any true knowledge about Jesus from this source, we turn to the only source that can provide true information: the Qur'an, which God promised to protect until the Last Day. The Qur'an reveals much about Jesus' birth, life, examples of his encounters with other people, the situation of those living around him, and many other subjects. It also provides many examples of his efforts to invite the Jewish people to faith. The Qur'an relates the following words of Jesus:
"I come confirming the Torah I find already there, and to make lawful for you some of what was previously forbidden to you. I have brought you a Sign from your Lord. So fear God and obey me. God is my Lord and your Lord so worship Him. That is a straight path." (Qur'an, 3:50-51)
Only a few Jews answered his call and became his followers. The Qur'an reveals the existence of these devout believers as follows:
When Jesus sensed unbelief on their part, he asked: "Who will be my helpers for [the cause of] God?" The disciples said: "We are God's helpers. We believe in God. Bear witness that we are Muslims. Our Lord, we believe in what You have sent down and have followed the Messenger, so write us down among the witnesses." (Qur'an, 3:52-53)
According to the New Testament, Jesus traveled to all corners of Palestine with his 12 disciples to call people to faith. On this journey, God allowed him to perform many miracles. He healed the sick and disabled, cured people suffering from leprosy, brought sight to those who had been blind from birth, and raised the dead. The Qur'an reveals these miracles in the verses below:
"I have brought you a Sign from your Lord. I will create the shape of a bird out of clay for you and then breathe into it, and it will be a bird by God's permission. I will heal the blind and the leper and bring the dead to life, by God's permission. I will tell you what you eat and what you store up in your homes. There is a Sign for you in that if you believe." (Qur'an, 3:49)
Remember when God said: "Jesus, son of Mary, remember My blessing to you and to your mother when I reinforced you with the Purest Spirit so that you could speak to people in the cradle and when you were fully grown; and when I taught you the Book and Wisdom, and the Torah and the Gospel; and when you created a bird-shape out of clay by My permission, and then breathed into it and it became a bird by My permission; and healed the blind and the leper by My permission; when you brought forth the dead by My permission; and when I held back the Children of Israel from you, when you brought them the Clear Signs and those who did not believe said: 'This is nothing but downright magic.'" (Qur'an, 5:110)
Jesus performed great miracles, and many people were impressed by them. However, he always stated that these miracles happened only by the will of God and, according to the Bible, he always told the people he healed: "Your faith has saved you." In response, the people praised the Lord when they saw his miracles:
Jesus left there and went along the Sea of Galilee. Then he went up on a mountainside and sat down. Great crowds came to him, bringing the lame, the blind, the crippled, the mute, and many others, and laid them at his feet. And he healed them. The people were amazed when they saw the mute speaking, the crippled made well, the lame walking, and the blind seeing. And they praised the God of Israel. (Matthew 15:29-31)
Despite the increasing obstacles and, in particular among the people who suffered from oppression and cruelty, the number of believers began to rise. At the time, Jesus and his disciples had wandered through all of the towns and cities in the land. Meanwhile, the priests and scribes (teachers of the law) began to scheme and plot against Jesus, who had been telling them of the wrongs inherent in the traditions that they had promoted for years, reminding them of the deviations in the order they had established and calling them to believe only in God and to live only for him. (Luke 22:1-2, John 11:47-53)
Like all other Prophets, Jesus called his people to believe in God, to submit wholeheartedly to Him, to live for His good pleasure, to refrain from sin and evil, and to do good. He reminded them of life's impermanence and of death's proximity, and told them that they would have to answer for all of their deeds in the Hereafter. He called them to worship God alone and to fear and mind only Him. The Bible also contains much advice and educational material (mashal) in this respect. According to the New Testament, Jesus advised those who were "short on faith," brought them the good news of God's imminent dominion, and asked them to seek God's forgiveness. This dominion is the rule which the Jews expected to be established when the Messiah arrived, a rule that would bring them renewed faith and deliverance.
Jesus remained true to the Mosaic law (the commandments of the Torah) and reprimanded the Jews for straying from them or their hypocritical practice. According to the New Testament, he told them: "If you believed Moses, you would believe me, for he wrote about me" (John 5:46). Jesus called people to return to the Torah. The Gospel of Matthew records his order to abide by the Mosaic law ("the holy law"):
I did not come to destroy, but to fulfill. (Matthew 5:17)
Whoever therefore breaks one of the least of these commandments and teaches men so shall be called least in the kingdom of Heaven; but whoever does and teaches them, he shall be called great in the kingdom of Heaven. (Matthew 5:19)
The Qur'an says the following about Jesus:
[Jesus said,] "I come confirming the Torah I find already there, and to make lawful for you some of what was previously forbidden to you. I have brought you a Sign from your Lord. So fear God and obey me." (Qur'an, 3:50)
Kasih Sayang
"Kasihilah penghuni bumi, niscaya engkau dikasihi penghuni langit" sabda Rasulullah SAW, yang dimaksud dengan ''penghuni langit'' adalah Allah dan para malaikat-Nya sedangkan "penghuni bumi" yang patut dikasihi dan sekaligus dikasihani, merujuk riwayat Abu Hurairah, yaitu segala yang bernyawa
Cinta kepada sesama adalah tolok ukur iman seseorang. Rasulullah SAW menegaskan, "Bila seseorang tidak punya rasa belas kasihan terhadap sesamanya, maka Allah pun tidak menaruh kasihan kepadanya."(riwayat Bukhari-Muslim)
Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjelaskan, amal yang paling disenangi Allah SWT ada tiga: "Memberi maaf sewaktu sempat membalas dendam, berlaku adil saat emosi, dan menaruh belas kasihan terhadap sesama hamba Allah"
